Bisnis Sewa Printer Makin Tokcer

Bisnis Sewa Printer Makin Tokcer

Ardhi Suryadhi – detikinet
Bisnis Sewa Printer Makin Tokcer
Foto: ash/detikinet
Suzuka – Kebutuhan akan mesin cetak masih saja tinggi bagi kalangan korporasi di tengah era digital saat ini. Terlebih pelanggan tak perlu lagi berinvestasi untuk membelinya, cukup menyewa saja.

Bisnis sewa printer ini khususnya terjadi untuk perangkat premium yang bisa segalanya alias multifungsi. Dimana perangkat tersebut sudah bisa melakukan aktivitas printing (mencetak), scan (memindai) hingga fotokopi (menggandakan).

Arifin Pranoto, Direktur Astragraphia selaku distributor eksklusif Fuji Xerox di Indonesia mengatakan, kondisi bisnis di Indonesia saat ini memang mempengaruhi pencapaian bisnis Astragraphia Document Solution lantaran banyak perusahaan mengubah pola pemakaian mereka dari Investasi ke sewa dan banyak menghendaki menggunakan Cost Management Solution.

“Yang menjadi kemudahan Astragraphia Document Solution dengan solusi Fuji Xerox, selain memang state of art technology yang unggul dan mengikuti perkembangan zaman juga sesuai dengan kebutuhan pelanggan dan sudah terintegrasi untuk solusi di dunia ICT,” jelasnya kepada detikINET.

Astragraphia Document Solution sendiri memiliki empat unit bisnis utama, yakni Office Product Business (OPB), Printer Channel Business (PCB), Production Service Business (PSB) serta Fuji Xerox Global Service (FXGS).

Bisnis Sewa Printer Makin <i>Tokcer</i>Foto: ash/detikinet

Kembali ke soal investasi, mesin cetak multifungsi atau yang biasa disebut sebagai multifunction device (MFD) oleh Fuji Xerox, dijual di angka Rp 80-Rp 100 juta dengan masa pakai lebih dari 10 tahun. Sedangkan untuk jasa penyewaan berkisar di angka Rp 3-Rp 4 juta per bulan.

“Selain itu, dengan memilih Fuji Xerox solution maka pelanggan akan mendapatkan jaminan layanan seperti service guarantee 3Hour Downtime, Integrated Call Center, On-line support dan lainnya di seluruh jaringan Astragraphia yang mencakup 514 kabupaten melalui 92 titik layanan dengan lebih dari 300 engineers di seluruh Indonesia,” lanjut Arifin.

Fuji Xerox sendiri telah sukses menjalankan konsep penyewaan mesin cetak premium ini dalam kurun waktu yang cukup lama. Dimana mereka juga telah mengoptimalkan program lifecyle untuk perangkat rekondisi (recycle) berkualitas sehingga dapat memenuhi kebutuhan akan solusi dokumen kalangan korporasi.

Dalam kunjungan detikINET ke Suzuka Center Fuji Xerox Manufacturing, terlihat bagaimana tenaga-tenaga ahli vendor asal Jepang tersebut memanfaatkan setiap komponen dari produk buatannya yang memasuki masa purna bakti.

Bisnis Sewa Printer Makin <i>Tokcer</i>Foto: ash/detikinet

Masaharu Furukawa, Corporate Vice President & Executive General Manager Suzuka Center Fuji Xerox Manufacturing menjelaskan, pabrik yang dibangun pada tahun 2010 tersebut memiliki total tenaga kerja 1.621 orang per Januari 2016. Dimana sebanyak 200 orang di antaranya ditempatkan di lini recyling untuk menghasilkan perangkat daur ulang mumpuni.

“Meski ini produk rekondisi, tetapi kami tetap menjaga kualitas dengan melakukan quality control terbaik. Sehingga produk (rekondisi) tersebut memiliki kualitas yang hampir sama dengan produk baru,” jelasnya saat ditemui di pabrik yang berlokasi di Suzuka-shi, Mie, Jepang tersebut, Rabu (30/11/2016)

Per bulan, total produk yang diterima Fuji Xerox di pabrik rekondisinya ini bisa mencapai 800 unit multifungsi device (MFD). Perangkat ini ada yang berasal dari hasil penggunaan pelanggan yang menyewanya. Atau berasal dari program trade-in (pertukaran) pelanggan yang ingin naik kelas ke seri yang lebih canggih.

Proses recycling yang dilakukan Fuji Xerox pertama-tama tumpukan MFD rusak tersebut dikumpulkan untuk kemudian dibuatkan jadwal antrean pemeriksaan. Selanjutnya perangkat-perangkat itu akan dicek dan dibersihkan untuk mengetahui masalahnya.

Pembersihan bisa dilakukan dengan ‘tembakan angin’, vacum cleaner sampai benar-benar dibersihkan dengan deterjen khusus yang tak merusak perangkat elektronik.

Setelah dicek, barulah diketahui jika komponen-komponen yang ada di dalam perangkat ini masih bisa digunakan atau tidak (saling mengkanibal). Jika masih bisa digunakan maka komponen itu akan dipasangkan dengan mesin lainnya.

Sebaliknya, jika tak bisa diselamatkan lagi maka komponen tersebut tetap akan didaur ulang tetapi dalam program yang berbeda. Tidak menjadi komponen untuk menghidupkan kembali perangkat MFD lainnya.

Lini recyling di Susuka Center ini cuma bekerja dalam satu shift, selama 8 jam sehari. Hal menarik saat detikINET mengunjungi tempat tersebut adalah banyaknya wanita-wanita muda yang bekerja untuk berbagai job desk.

Meski rupawan dan masih muda, mereka terlihat bekerja seperti robot industri. Terus memiliki ritme tinggi untuk menuntaskan pekerjaannya.

“Termasuk jika ada yang ingin izin ke toilet. Maka pekerjaan mereka tak lantas berhenti, harus bisa digantikan oleh teman kerjanya yang lain untuk memantau. Jadi tetap jalan, tidak berhenti secara operasional pekerjaan,” papar salah satu karyawan Fuji Xerox yang menjadi guide bagi media yang berkunjung.

Adapun perangkat yang diganti biasanya adalah yang sifatnya ‘consumed based‘ alias terus-terusan dipakai. Seperti fuser, drum, toner dan lainnya.

Nah, perangkat yang nantinya dipreteli dan kemudian dipakaikan ke perangkat lainnya kemudian bakal disewakan atau dijual lagi ke pelanggan. Namun tentunya dengan disertai pengumuman jika ini adalah barang rekondisi yang tetap terjaga kualitasnya.

Strategi recycle ini pula yang membuat Fuji Xerox punya posisi kuat dari sisi market share, termasuk di Indonesia. Menurut data IDC, total office share alias pangsa pasar mesin office baik mono dan color Fuji Xerox pada tahun 2015 berada di angka 27%, sedikit di bawah Canon dengan 28% dan jauh di atas pemain lain macam Ricoh (16%), Kyocera DocSol (7%), Toshiba (5%) serta Sharp (4%).

Namun pada Q3 2016, total office share Fuji Xerox langsung melesat di angka 49%, meninggalkan Canon dengan 24%, serta Toshiba, Samsung dan Kyocera yang masing-masing memakan kue pasar sebesar 5%.(ash/fyk)

Sumber: detik.com